Mengenal Ridwan Kamil
“Bandung
juara” adalah tagline yang digunakan
oleh salah satu calon walikota Bandung periode 2013-2018 dengan nomor urut 4.
Pasangan ini pula yang memenangkan perhelatan akbar demokrasi kota Bandung yang
digelar 23 Juni 2013 yang lalu. Kang Emil, begitu sapaan akrab yang dikenal
oleh warga Bandung adalah seorang arsitek yang peduli pada lingkungan sosial. Ia
adalah Sarjana Teknik Arsitektur dari Institut Teknologi Bandung ini mendapat
beasiswa S2 dan berhasil meraih gelar Master of Urban Design dari College of
Environmental Design, University of California, Barkeley di Amerika Serikat.
Gelar yang ia peroleh sejak menuntut ilmu di bangku perkuliahan tak serta merta
hanya sekedar menjadi penghias nama. Terbukti, sejak tahun 2004 hingga 2009
Emil telah berhasil meraih 12 penghargaan di Bidang Desain Arsitektur dalam
lingkup Asia.
Hasil
karyanya pun kini bisa kita saksikan di beberapa negara, khususnya wilayah
Asia. Ia terlibat dalam penanganan proyek Marina Bay Waterfront Master di
Singapura, Sukhotai Urban Resort Master Plan di Bangkok, Ras Al Kaimah
Waterfront Master di Qatar, juga district 1 Saigon South Residential Master
Plan di Saigon, Shao Xing Waterfront Masterplan (China), Beijing CBD Master
plan, dan Guangzhou Science City Master Plan.
Sukses
dengan beberapa proyek di luar negri, tak membuat ia lupa akan kewajiban
pengabdiannya di dalam negeri. Diantara beberapa proyek yang berhasil ia garap
misalnya, Superblock Project untuk Rasuna Epicentrum di Jakarta. Dari luas
lahan sebesar 12 hektar tersebut, dibangun Bakrie Tower, Epicentrum Walk,
perkantoran, retail, dan waterfront. Namun semua pencapaian ini tak membuatnya
puas dan berhenti. Emil yang memiliki filosofi hidup to live is to give ini
ingin selalu ingin menjadi extra value bagi orang lain. Ia
masih memiliki tiga mimpi yang ingin segera diwujudkannya untuk memecahkan
masalah-masalah yang terjadi di kota-kota besar.
Proyek
pertama yang ingin dibuatnya adalah shuttle bike, yakni pusat penyewaan sepeda
di jalan-jalan protokol dan pusat bisnis Jakarta. "Saya membayangkan jika
sekitar SCBD ada shuttle bike , jadi kalau mau jalan dari
gedung ke gedung enggak usah pakai mobil, yang selama ini jadi salah satu
penyebab macet. Shuttle bike nanti ada di beberapa titik,
jadi kalau sudah sampai tujuan, sepeda bisa dititipkan dan dipakai lagi saat
urusan selesai," jelas lelaki kelahiran 4 Oktober 1971 ini.
Proyek
impiannya yang kedua adalah Green Box. "Saya membayangkan sebuah kotak
seperti telepon umum zaman dulu, tapi dipenuhi dengan tanaman hijau di
dindingnya. Di dalamnya ada nada suara burung, percikan air, juga aromatherapy yang
menenangkan. Jadi untuk orang Jakarta yang stress,penat dengan pekerjaannya,
atau setelah terjebak macet, masuk saja ke kotak itu. Saya berkhayal Green Box
ini akan menyebar di seluruh sudut kota Jakarta," ungkap Pemenang Young
Creative Enterpreneur Award tahun 2006 dari British Council ini.
Proyek
impian ketiga adalah membangun creative center di
kota-kota besar. "Saya membayangkan sebuah gedung yang isinya orang-orang
kreatif. Selama ini kan orang-orang kreatif ngumpulnya di mal, di café, padahal
tidak selamanya orang kreatif itu punya uang. Saya ingin membangun creative
center yang akan jadi pusat berkumpulnya orang-orang kreatif.
Jadi mau ngumpul saja, atau bikin kegiatan lainnya bisa menggunakan tempat itu,
gratis," tambah Emil.
Begitupun
di Bandung, ia adalah pelopor banyak komunitas sosial misalnya, Bandung
Creative City Forum (BCCF), gerakan Indonesia Berkebun, Bandung Citizen Journal,
Konsep One Village One Playground dll. Dengan berbekal karya nyata inilah yang
membuat suami dari Atalia Praratya layak mencalonkan diri menjadi pemimpin yang
dikenal dengan sebutan Paris Van Java.
Hingga akhirnya akan mengantarkan dirinya menuju panggung pentikan Walikota
Bandung terpilih periode 2013-2018 tanggal 16 September 2013 hari ini.
Menghadirkan Optimisme
Dilansir
dari situs resmi http://www.ridwankamil.net/ngabandungan,
Bandung dihadapkan pada empat masalah utama, diantaranya : jalan bolong,
fasilitas umum yang rusak, sampah, dan kemacetan. Adapun jalan bolong menduduki
permasalahan utama dengan persentase sebesar 35%, disusul masalah fasilitas
umum yang rusak sebesar 26%, sampah 19%, kemacetan 19%, dan lain-lain 5%.
Menelisik dari keempat masalak pokok yang telah didata, hal ini menunjukkan
bahwa Bandung adalah kota yang kompleks akan masalah. Namun demikian, tak
berarti kota kembang ini memiliki surga masalah yang tak memiliki potensi untuk
berbenah. Mari kita tolak pesimisme itu.
Banyak
pontensi yang bisa digali dari kota Bandung.Bandung adalah ibukota provinsi
daerah tingkat 1 Jawa Barat. Berdasarkan keterangan pada website resmi
pemerintah kota Bandung, lokasi kotamadya Bandung cukup strategis dilihat dari
segi komunikasi, perekonomian maupun keamanan. Hal tersebut disebabkan oleh :
- KotaBandung terletak pada pertemuan
poros jalan raya :
- Barat Timur yang memudahkan
hubungan dengan Ibukota Negara.
- Utara Selatan yang memudahkan lalu lintas ke daerah perkebunan (Subang dan Pangalengan).
- Letak yang tidak terisolasi serta
dengan komunikasi yang baik akan memudahkan aparat keamanan untuk bergerak
ke setiap penjuru.
Selain
itu, PT. Bank DKI pun menemukan adanya potensi pada kota ini. Bandung akan
menjadi objek ekaspansi bisnisnya. Adapun bidang yang ingin dibidik adalah
industry kreatif. Inilah penuturan resmi yang berhasil penulis peroleh dari
situs http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/bisnis/13/07/03/mpcmea-bank-dki-bidik-potensi-industri-kreatif-kota-bandung
:
“Selama
ini, kami mengenal Kota Bandung dengan segala potensinya di bidang industri
kreatif, seperti usaha kuliner, fashion, kerajinan (craft),
dan pendidikan,'' ujar Direktur Utama Bank DKI, Eko Budiwiyono, Rabu
(3/7).
Agrumen
diatas cukuplah kuat untuk menyemai optimism pada kota Bandung. Senada dengan
pernyataan Eko Budiwiyono sebagai Direktur Utama Bank DKI, Ridwan Kamil yang
terpilih sebagai Walikota Bandung pun angin segar perubahan pada janji
politiknya yang ia sampaikan ketika ia melakukan kampanye. Tentunya untuk
mengatasi empat permasalahan utama yang sudah disebutkan pada kalimat di atas.
Ia berjanji akan membeli lahan
dipemukiman padat untuk penghijauan, pengadaan transportasi umum seperti
monorail, pembenahan gorong-gorong, taman tematik, pemberdayaan satpol PP,
kampung mandiri tematik. Selain itu ia pun berjanji akan 1.500 alat pengolah
sampah untuk mengatasi masalah jumlah sampah yang kian banyak. Alat yang
digunakan akan dibagikan ke tiap RW atau kelurahan setempat. Hasil dari
pengolahan sampah yang dihasilkan melalui alat ini, 30% akan dibawa ke tempat
pembuangan akhir. Sehingga bisa menghasilkan biogas dan kompos yang akan
disalurkan kembali kepada penduduk agar tak perlu lagi membeli gas.
Komitmen
diatas adalah gambaran bahwa optimisme menuju Bandung juara akan semakin nyata
jika kita sebagai warga turus serta berpartisipasi dalam pembenahan kota
Bandung. Optimisme saja tidaklah cukup. Agar tak sekedar slogan kosong, ia
perlu perjuangan untuk mencapai keberhasilan. Turut serta kita dalam mengawal
program dan janji politik yang sudah disampaikan ketika kampanye sangatlah
penting. Agar kita tidak dicap sebagai warga yang hanya bisa menikmati
perubahan, tetapi juga sebagai pelopor dan bukan pengekor perubahan.
Komitmen Pengawalan
Bandung, sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, memiliki
banyak potensi untuk menjadi kota maju yang berpengaruh di tingkat nasional
maupun internasional. Sayangnya, kondisi tersebut masih belum bisa diwujudkan
karena Bandung juga masih menyimpan berbagai masalah. Macet, banjir, sampah,
infrastruktur belum memadai dan sejumlah permasalahan lainnya masih menjadi
“mimpi buruk” yang terus membayangi Bandung. Maka, saat ini dibutuhkan
akselerasi kepemimpinan untuk mewujudkan perbaikan kota Bandung. Upaya
mewujudkan perbaikan kota Bandung tentu harus dilakukan secara sistematis dan
terukur. Untuk itu, KAMMI Bandung menyusun dan merumuskan 10 hal yang telah
disepakati bersama dengan walikota dan wakil walikota Bandung, Kang Emil &
Mang Oded dalam Komitment pemimpin Bandung. Berikut ini adalah kontrak politik
yang ditandatangani oleh 7 dari 8 pasang calon walikota Bandung:
1. Senantiasa menjalankan pemerintahan dengan prinsip good
government serta berkomitment untuk tidak KKN.
2. Dalam 100 hari masa kepemimpinan sudah membangun partisipasi aktif baik kunjungan, komunikasi ataupun kerjasama setidaknya dengan kampus-kampus besar, organisasi masyarakat/kepemudaan besar serata daerah daerah dikota Bandung.
3. Dalam 100 hari masa kepemipinan telah memberikan keputusan jelas tentang status taman kota Baksil sebagai daerah resapan hijau.
4. Dalam 3 tahun masa kepemimpinan, telah meningkatkan IPM
kurang lebih 2 point dari IPM saat ini( IPM tahun 2012).
5. Dalam 3 tahun masa kepemimpinan, kota Bandung telah memiliki sistem penyelesaian permasalahan sampah serta mengaplikasikanya dengan baik.
6. Dalam 3 tahun masa kepemimpinan, telah menyelesaikan permasalahan kerusakan jalan serta pemeliharaanya diseluruh jalan kota Bandung.
7. Dalam 3 tahun masa kepemimpinan, telah mengurangi jumlah
penganguran hingga 3-5%.
8. Dalam 5 tahun masa kepemimpinan, telah memiliki IPM tertinggi
se-Jawa Barat.
9. Dalam 5 tahun masa kepemimpinan, telah menyelesaikan permasalahan banjir yang meliputi tata ruang dan lingkungan.
10.Dalam 5 tahun masa kepemimpinan, pemerintah sudah menjamin
tidak ada siswa putus sekolah formal pada usia wajib belajar 9 tahun.
Sepuluh point diatas akan menjadi pijakan dan tolak ukur KAMMI
Bandung dalam mengawal perbaikan kota Bandung selama 5 tahun masa jabatan
Walikota dan Wakil Walikota Bandung periode 2013-2018. KAMMI Bandung secara
tegas akan terus mengawal jalannya pemerintahan M. Ridwan Kamil dan Oded M.
Danial dalam menjalankan amanah warga Bandung sesuai dengan komitmen pemimpin
Bandung berdasarkan janji politik yang telah disepakati bersama. Semoga kondisi
kota Bandung bisa jauh lebih baik dari sebelumnya.























