Minggu, 15 September 2013

“Menuju Bandung Juara”


Mengenal Ridwan Kamil

“Bandung juara” adalah tagline yang digunakan oleh salah satu calon walikota Bandung periode 2013-2018 dengan nomor urut 4. Pasangan ini pula yang memenangkan perhelatan akbar demokrasi kota Bandung yang digelar 23 Juni 2013 yang lalu. Kang Emil, begitu sapaan akrab yang dikenal oleh warga Bandung adalah seorang arsitek yang peduli pada lingkungan sosial. Ia adalah Sarjana Teknik Arsitektur dari Institut Teknologi Bandung ini mendapat beasiswa S2 dan berhasil meraih gelar Master of Urban Design dari College of Environmental Design, University of California, Barkeley di Amerika Serikat. Gelar yang ia peroleh sejak menuntut ilmu di bangku perkuliahan tak serta merta hanya sekedar menjadi penghias nama. Terbukti, sejak tahun 2004 hingga 2009 Emil telah berhasil meraih 12 penghargaan di Bidang Desain Arsitektur dalam lingkup Asia.

Hasil karyanya pun kini bisa kita saksikan di beberapa negara, khususnya wilayah Asia. Ia terlibat dalam penanganan proyek Marina Bay Waterfront Master di Singapura, Sukhotai Urban Resort Master Plan di Bangkok, Ras Al Kaimah Waterfront Master di Qatar, juga district 1 Saigon South Residential Master Plan di Saigon, Shao Xing Waterfront Masterplan (China), Beijing CBD Master plan, dan Guangzhou Science City Master Plan.
Sukses dengan beberapa proyek di luar negri, tak membuat ia lupa akan kewajiban pengabdiannya di dalam negeri. Diantara beberapa proyek yang berhasil ia garap misalnya, Superblock Project untuk Rasuna Epicentrum di Jakarta. Dari luas lahan sebesar 12 hektar tersebut, dibangun Bakrie Tower, Epicentrum Walk, perkantoran, retail, dan waterfront. Namun semua pencapaian ini tak membuatnya puas dan berhenti. Emil yang memiliki filosofi hidup to live is to give  ini ingin selalu ingin menjadi extra value bagi orang lain. Ia masih memiliki tiga mimpi yang ingin segera diwujudkannya untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi di kota-kota besar.

Proyek pertama yang ingin dibuatnya adalah shuttle bike, yakni pusat penyewaan sepeda di jalan-jalan protokol dan pusat bisnis Jakarta. "Saya membayangkan jika sekitar SCBD ada shuttle bike , jadi kalau mau jalan dari gedung ke gedung enggak usah pakai mobil, yang selama ini jadi salah satu penyebab macet. Shuttle bike  nanti ada di beberapa titik, jadi kalau sudah sampai tujuan, sepeda bisa dititipkan dan dipakai lagi saat urusan selesai," jelas lelaki kelahiran 4 Oktober 1971 ini.
Proyek impiannya yang kedua adalah Green Box. "Saya membayangkan sebuah kotak seperti telepon umum zaman dulu, tapi dipenuhi dengan tanaman hijau di dindingnya. Di dalamnya ada nada suara burung, percikan air, juga aromatherapy  yang menenangkan. Jadi untuk orang Jakarta yang stress,penat dengan pekerjaannya, atau setelah terjebak macet, masuk saja ke kotak itu. Saya berkhayal Green Box ini akan menyebar di seluruh sudut kota Jakarta," ungkap Pemenang Young Creative Enterpreneur Award tahun 2006 dari British Council ini.

Proyek impian ketiga adalah membangun creative center  di kota-kota besar. "Saya membayangkan sebuah gedung yang isinya orang-orang kreatif. Selama ini kan orang-orang kreatif ngumpulnya di mal, di café, padahal tidak selamanya orang kreatif itu punya uang. Saya ingin membangun creative center  yang akan jadi pusat berkumpulnya orang-orang kreatif. Jadi mau ngumpul saja, atau bikin kegiatan lainnya bisa menggunakan tempat itu, gratis," tambah Emil.
Begitupun di Bandung, ia adalah pelopor banyak komunitas sosial misalnya, Bandung Creative City Forum (BCCF), gerakan Indonesia Berkebun, Bandung Citizen Journal, Konsep One Village One Playground dll. Dengan berbekal karya nyata inilah yang membuat suami dari Atalia Praratya layak mencalonkan diri menjadi pemimpin yang dikenal dengan sebutan Paris Van Java. Hingga akhirnya akan mengantarkan dirinya menuju panggung pentikan Walikota Bandung terpilih periode 2013-2018 tanggal 16 September 2013 hari ini.

Menghadirkan Optimisme

Dilansir dari situs resmi http://www.ridwankamil.net/ngabandungan, Bandung dihadapkan pada empat masalah utama, diantaranya : jalan bolong, fasilitas umum yang rusak, sampah, dan kemacetan. Adapun jalan bolong menduduki permasalahan utama dengan persentase sebesar 35%, disusul masalah fasilitas umum yang rusak sebesar 26%, sampah 19%, kemacetan 19%, dan lain-lain 5%. Menelisik dari keempat masalak pokok yang telah didata, hal ini menunjukkan bahwa Bandung adalah kota yang kompleks akan masalah. Namun demikian, tak berarti kota kembang ini memiliki surga masalah yang tak memiliki potensi untuk berbenah. Mari kita tolak pesimisme itu.
Banyak pontensi yang bisa digali dari kota Bandung.Bandung adalah ibukota provinsi daerah tingkat 1 Jawa Barat. Berdasarkan keterangan pada website resmi pemerintah kota Bandung, lokasi kotamadya Bandung cukup strategis dilihat dari segi komunikasi, perekonomian maupun keamanan. Hal tersebut disebabkan oleh :

  1. KotaBandung terletak pada pertemuan poros jalan raya :
    • Barat Timur yang memudahkan hubungan dengan Ibukota Negara.
    • Utara Selatan yang memudahkan lalu lintas ke daerah perkebunan (Subang dan Pangalengan).
  2. Letak yang tidak terisolasi serta dengan komunikasi yang baik akan memudahkan aparat keamanan untuk bergerak ke setiap penjuru.
Selain itu, PT. Bank DKI pun menemukan adanya potensi pada kota ini. Bandung akan menjadi objek ekaspansi bisnisnya. Adapun bidang yang ingin dibidik adalah industry kreatif. Inilah penuturan resmi yang berhasil penulis peroleh dari situs http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/bisnis/13/07/03/mpcmea-bank-dki-bidik-potensi-industri-kreatif-kota-bandung :

“Selama ini, kami mengenal Kota Bandung dengan segala potensinya di bidang industri kreatif, seperti usaha kuliner, fashion, kerajinan (craft), dan pendidikan,'' ujar Direktur Utama Bank DKI, Eko Budiwiyono, Rabu (3/7). 

Agrumen diatas cukuplah kuat untuk menyemai optimism pada kota Bandung. Senada dengan pernyataan Eko Budiwiyono sebagai Direktur Utama Bank DKI, Ridwan Kamil yang terpilih sebagai Walikota Bandung pun angin segar perubahan pada janji politiknya yang ia sampaikan ketika ia melakukan kampanye. Tentunya untuk mengatasi empat permasalahan utama yang sudah disebutkan pada kalimat di atas. Ia berjanji akan membeli lahan  dipemukiman padat untuk penghijauan, pengadaan transportasi umum seperti monorail, pembenahan gorong-gorong, taman tematik, pemberdayaan satpol PP, kampung mandiri tematik. Selain itu ia pun berjanji akan 1.500 alat pengolah sampah untuk mengatasi masalah jumlah sampah yang kian banyak. Alat yang digunakan akan dibagikan ke tiap RW atau kelurahan setempat. Hasil dari pengolahan sampah yang dihasilkan melalui alat ini, 30% akan dibawa ke tempat pembuangan akhir. Sehingga bisa menghasilkan biogas dan kompos yang akan disalurkan kembali kepada penduduk agar tak perlu lagi membeli gas.

Komitmen diatas adalah gambaran bahwa optimisme menuju Bandung juara akan semakin nyata jika kita sebagai warga turus serta berpartisipasi dalam pembenahan kota Bandung. Optimisme saja tidaklah cukup. Agar tak sekedar slogan kosong, ia perlu perjuangan untuk mencapai keberhasilan. Turut serta kita dalam mengawal program dan janji politik yang sudah disampaikan ketika kampanye sangatlah penting. Agar kita tidak dicap sebagai warga yang hanya bisa menikmati perubahan, tetapi juga sebagai pelopor dan bukan pengekor perubahan.

Komitmen Pengawalan

Bandung, sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, memiliki banyak potensi untuk menjadi kota maju yang berpengaruh di tingkat nasional maupun internasional. Sayangnya, kondisi tersebut masih belum bisa diwujudkan karena Bandung juga masih menyimpan berbagai masalah. Macet, banjir, sampah, infrastruktur belum memadai dan sejumlah permasalahan lainnya masih menjadi “mimpi buruk” yang terus membayangi Bandung. Maka, saat ini dibutuhkan akselerasi kepemimpinan untuk mewujudkan perbaikan kota Bandung. Upaya mewujudkan perbaikan kota Bandung tentu harus dilakukan secara sistematis dan terukur. Untuk itu, KAMMI Bandung menyusun dan merumuskan 10 hal yang telah disepakati bersama dengan walikota dan wakil walikota Bandung, Kang Emil & Mang Oded dalam Komitment pemimpin Bandung. Berikut ini adalah kontrak politik yang ditandatangani oleh 7 dari 8 pasang calon walikota Bandung:
1. Senantiasa menjalankan pemerintahan dengan prinsip good government serta berkomitment untuk tidak KKN.

2. Dalam 100 hari masa kepemimpinan sudah membangun partisipasi aktif baik kunjungan, komunikasi ataupun  kerjasama setidaknya dengan kampus-kampus besar, organisasi masyarakat/kepemudaan besar serata daerah daerah dikota Bandung.

3. Dalam 100 hari masa kepemipinan telah memberikan keputusan jelas tentang status taman kota Baksil sebagai daerah resapan hijau.

4. Dalam 3 tahun masa kepemimpinan, telah meningkatkan IPM kurang lebih 2 point dari IPM saat ini( IPM tahun 2012).

5. Dalam 3 tahun masa kepemimpinan, kota Bandung telah memiliki sistem penyelesaian permasalahan sampah serta mengaplikasikanya dengan baik.

6. Dalam 3 tahun masa kepemimpinan, telah menyelesaikan permasalahan kerusakan jalan serta pemeliharaanya diseluruh jalan kota Bandung.

7. Dalam 3 tahun masa kepemimpinan, telah mengurangi jumlah penganguran hingga 3-5%.

8. Dalam 5 tahun masa kepemimpinan, telah memiliki IPM tertinggi se-Jawa Barat.

9. Dalam 5 tahun masa kepemimpinan, telah menyelesaikan permasalahan banjir yang meliputi tata ruang dan lingkungan.

10.Dalam 5 tahun masa kepemimpinan, pemerintah sudah menjamin tidak ada siswa putus sekolah formal pada usia wajib belajar 9 tahun.


Sepuluh point diatas akan menjadi pijakan dan tolak ukur KAMMI Bandung dalam mengawal perbaikan kota Bandung selama 5 tahun masa jabatan Walikota dan Wakil Walikota Bandung periode 2013-2018. KAMMI Bandung secara tegas akan terus mengawal jalannya pemerintahan M. Ridwan Kamil dan Oded M. Danial dalam menjalankan amanah warga Bandung sesuai dengan komitmen pemimpin Bandung berdasarkan janji politik yang telah disepakati bersama. Semoga kondisi kota Bandung bisa jauh lebih baik dari sebelumnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar