“Gerakan luar biasa dari kalangan
aktivis mahasiswa, yang bukan saja bergerak sendiri-sendiri tapi bersinergi
memikirkan bagaimana mengembangkan bangsa Indonesia ke depan.”
(Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc.
Rektor UGM 2012-2017)
Eksistensi
pemuda, khususnya mahasiswa mempunyai gelagat gejolak yang sangat dinantikan.
Kepadanya, bangsa ini menitipkan harapkan. Darinya, muncullah peradaban. Dan
olehnya, masa depan diwariskan. Tak berlebihan jika mereka disebut sebagai
“tulang punggung” negara untuk menyongsong kejayaan. Sudah banyak disaksikan
bahwa perjuangan menuju reformasi negri ini pun dipelopori oleh mahasiswa.
Hingga berhasil menumbangkan rezim pemerintahan Soeharto. Perjuangan membangun
bangsa dan meraih kejayaan masa depan Indonesia adalah sebuah mahar terbesar
yang harus ditebus oleh tiap diri mahasiswa. Itulah yang menjadi kewajiban yang
harus diemban atas predikat yang disandang sebagai “agen perubahan”. Dengan
semangat “agent of change” para mahasiswa gencar menyuarakan perubahan.
Pekikkannya seolah terus bergema hingga ruang-ruang gedung DPR. Tuntutannya
akan senantiasa digelorakan dan menjadi beban yang harus segera didengarkan
oleh mereka-mereka yang duduk di kursi parlemen. Hentakkan mereka tak pernah
bergeming jika negeri ini dilanda kezaliman. Oleh karenanya, bukan hal yang
aneh jika Soekarno pernah berujar “Berikan aku seribu orangtua, niscaya akan
kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan
dunia.”
Aktivis VS Apatis
Kontradiksi
ini sengaja disandingkan sebagai sebuah bukti adanya dua kutub yang tak pernah
berjumpa pergerakannya. Mereka yang bergelar aktivis adalah mahasiswa yang tak
kenal jemu menyuarakan perubahan. Jiwanya gelisah jika ada yang kebijakan yang
salah. Emosinya tersulut kala melihat kondisi yang carut-marut. Segera ingin
mengayunkan langkah sebagai tanda penolak kepada sang penjajah. Sungguh
perjalanan yang akan ditempuh sungguh melelahkan. Tetapi, entah mengapa mereka
lebih memilih jalan ini. Bahkan tak segan-segan orang-orang disekitar tak
menghiraukan. Meraka akan tetap teguh memilih jalan ini. Jalan juang peniti
peradaban. Banyak yang berkata, menjadi aktivis adalah sebuah pelarian atas
beban akademik. Atau banyak yang berkata ini adalah maneuver agar dapat terkenal
dengan cepat. Yang lebih menyakitkan lagi, aktivis hanyalah sekelompok
orang-orang yang kurang kerjaan. Jauh dari labeling
itu semua, suara yang mereka pekikkan justru untuk nilai akademik jua.
Sembari harus memikirkan program-program kerja yang telah disusun. Mengerjakan
tugas disela-sela keheningan malam. Kereka bekerja disaat yang lain berkawan
dengan keluhan. Berteriak disaat yang lain diam, dan berlari disaat yang lain
berjalan.
Miris
rasanya jika mahasiswa cenderung apatis. Hanya berorientasi pada hal akademik.
Seakan tak terpanggil jiwanya bahwa terdengar jauh disana para pendahulu kita
menitipkan wasiat untuk terus melanjutkan estafet perjuangan. Adakah dalam diri
mereka terpanggil hatinya untuk berbakti pada negri ini? Setidaknya dengan
menapakai langkah kecil untuk menggerakkan berbagai organisasi kemahasiswaan di
kampusnya. Atau yang lebih menantang, terlibat pula untuk mengembangkan
organisasi di luar kampus. Jika negara ini menagih kiprah kita, sudahkah kita
siap menjawab? Jangan bertanya apa yang bisa negara berikan untuk kita. Tapi
bertanyalah apa yang bisa kita berikan untuk negara. Genggaman kebangkitan itu
tidak dititipkan kepada mereka-mekera yang tak subur kepeduliannya, yang tak
peka perasaannya, dan yang tak tergetar hatinya manakala negara ini sedang
berada diambang kehancura sekalipun. Bahkan alangkah angkuhnya kita jika sempat
terselip dalam benak kita bahwa jalan inilah yang membutuhkan kita. Namun
ternyata, Kawan, kita lah yang sebenarnya membutuhkan jalan perjuangan ini.
Untuk mencari ridha-Nya, kita harus senantiasa bergandengan agar kelak negara
ini tak merasa bahwa kemana masa depan ini dititipkan. Jangan titipkan masa depan bangsa ini kepada orang lain. Karena di negeri ini ada mahasiswa. Merekalah pemimpin perubahan yang dinanti!
"Biarkan jaket almamatermu berdebu jalanan, bau
keringat menyengat, atau robek terjatuh...
Dari pada lapuk disimpan, bau wangi parfum, dan berdebu rumah...
Justru karena itulah, kau pantas disebut MAHASISWA..MENGGENGGAM SEMANGAT KE SURGA”
(Tim Puskomnas 2007/2010 Jama’ah Nuruzzaman UNAIR)
Dari pada lapuk disimpan, bau wangi parfum, dan berdebu rumah...
Justru karena itulah, kau pantas disebut MAHASISWA..MENGGENGGAM SEMANGAT KE SURGA”
(Tim Puskomnas 2007/2010 Jama’ah Nuruzzaman UNAIR)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar