Senin, 02 September 2013

“Mahasiswa, Mana Kiprahmu?”


“Gerakan luar biasa dari kalangan aktivis mahasiswa, yang bukan saja bergerak sendiri-sendiri tapi bersinergi memikirkan bagaimana mengembangkan bangsa Indonesia ke depan.”
(Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. Rektor UGM 2012-2017)
Eksistensi pemuda, khususnya mahasiswa mempunyai gelagat gejolak yang sangat dinantikan. Kepadanya, bangsa ini menitipkan harapkan. Darinya, muncullah peradaban. Dan olehnya, masa depan diwariskan. Tak berlebihan jika mereka disebut sebagai “tulang punggung” negara untuk menyongsong kejayaan. Sudah banyak disaksikan bahwa perjuangan menuju reformasi negri ini pun dipelopori oleh mahasiswa. Hingga berhasil menumbangkan rezim pemerintahan Soeharto. Perjuangan membangun bangsa dan meraih kejayaan masa depan Indonesia adalah sebuah mahar terbesar yang harus ditebus oleh tiap diri mahasiswa. Itulah yang menjadi kewajiban yang harus diemban atas predikat yang disandang sebagai “agen perubahan”. Dengan semangat “agent of change” para mahasiswa gencar menyuarakan perubahan. Pekikkannya seolah terus bergema hingga ruang-ruang gedung DPR. Tuntutannya akan senantiasa digelorakan dan menjadi beban yang harus segera didengarkan oleh mereka-mereka yang duduk di kursi parlemen. Hentakkan mereka tak pernah bergeming jika negeri ini dilanda kezaliman. Oleh karenanya, bukan hal yang aneh jika Soekarno pernah berujar “Berikan aku seribu orangtua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Aktivis VS Apatis

Kontradiksi ini sengaja disandingkan sebagai sebuah bukti adanya dua kutub yang tak pernah berjumpa pergerakannya. Mereka yang bergelar aktivis adalah mahasiswa yang tak kenal jemu menyuarakan perubahan. Jiwanya gelisah jika ada yang kebijakan yang salah. Emosinya tersulut kala melihat kondisi yang carut-marut. Segera ingin mengayunkan langkah sebagai tanda penolak kepada sang penjajah. Sungguh perjalanan yang akan ditempuh sungguh melelahkan. Tetapi, entah mengapa mereka lebih memilih jalan ini. Bahkan tak segan-segan orang-orang disekitar tak menghiraukan. Meraka akan tetap teguh memilih jalan ini. Jalan juang peniti peradaban. Banyak yang berkata, menjadi aktivis adalah sebuah pelarian atas beban akademik. Atau banyak yang berkata ini adalah maneuver agar dapat terkenal dengan cepat. Yang lebih menyakitkan lagi, aktivis hanyalah sekelompok orang-orang yang kurang kerjaan. Jauh dari labeling itu semua, suara yang mereka pekikkan justru untuk nilai akademik jua. Sembari harus memikirkan program-program kerja yang telah disusun. Mengerjakan tugas disela-sela keheningan malam. Kereka bekerja disaat yang lain berkawan dengan keluhan. Berteriak disaat yang lain diam, dan berlari disaat yang lain berjalan.

Miris rasanya jika mahasiswa cenderung apatis. Hanya berorientasi pada hal akademik. Seakan tak terpanggil jiwanya bahwa terdengar jauh disana para pendahulu kita menitipkan wasiat untuk terus melanjutkan estafet perjuangan. Adakah dalam diri mereka terpanggil hatinya untuk berbakti pada negri ini? Setidaknya dengan menapakai langkah kecil untuk menggerakkan berbagai organisasi kemahasiswaan di kampusnya. Atau yang lebih menantang, terlibat pula untuk mengembangkan organisasi di luar kampus. Jika negara ini menagih kiprah kita, sudahkah kita siap menjawab? Jangan bertanya apa yang bisa negara berikan untuk kita. Tapi bertanyalah apa yang bisa kita berikan untuk negara. Genggaman kebangkitan itu tidak dititipkan kepada mereka-mekera yang tak subur kepeduliannya, yang tak peka perasaannya, dan yang tak tergetar hatinya manakala negara ini sedang berada diambang kehancura sekalipun. Bahkan alangkah angkuhnya kita jika sempat terselip dalam benak kita bahwa jalan inilah yang membutuhkan kita. Namun ternyata, Kawan, kita lah yang sebenarnya membutuhkan jalan perjuangan ini. Untuk mencari ridha-Nya, kita harus senantiasa bergandengan agar kelak negara ini tak merasa bahwa kemana masa depan ini dititipkan. Jangan titipkan masa depan bangsa ini kepada orang lain. Karena di negeri ini ada mahasiswa. Merekalah pemimpin perubahan yang dinanti!


"Biarkan jaket almamatermu berdebu jalanan, bau keringat menyengat, atau robek terjatuh...
Dari pada lapuk disimpan, bau wangi parfum, dan berdebu rumah...
Justru karena itulah, kau pantas disebut MAHASISWA..
MENGGENGGAM SEMANGAT KE SURGA”
(Tim Puskomnas 2007/2010 Jama’ah Nuruzzaman UNAIR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar