Selasa, 12 November 2013

“Change The World Through The Words”


“Buku adalah sesuatu yang jika Anda pandang maka akan memberikan kenikmatan yang panjang. Dia menajamkan kemampuan intelektual, membuat lidah tidak keluh, dan membuat ujung jemari semakin indah”
(Petikan buku La Tahzan karya Dr. ‘Aidh al-Qarni)

Sengaja diawal tulisan ini disuguhkan dengan petikan nasihat penggugah. Agar tak pernah lupa bahwa selayaknya siapapun kita, senantiasa rutin dengan aktivitas membaca, menulis, dan berdiskusi. Terlebih lagi mereka yang menyandang gelar “mahasiswa”. Catatan ini khusus dibuat untuk seluruh kader KAMMI Komisariat STT Tekstil. Sebagai pengingat kita yang mungkin sering lupa. Nasihat ini sengaja mengutip inspirasi penutup dari buku “Inspiring Words for Writers” karya Mohammad Fauzil Adhim. Semoga catatn ini bisa membakar semangat kita untuk memulai budaya membaca, menulis, dan berdiskusi. Silahkah disimak………

Kata-kata yang tersusun rapi, dapat menyihir manusia. Ia menggerakkan yang diam, dan meredakan yang bergejolak. Karena kata-kata, sebuah bangsa dapat bertikai dengan bangsa-bangsa lain. Dan karena kata-kata pula, pedang yang terhunus bisa masuk kembali ke sarungnya tanpa ada sedikit pun darah yang menetes. Justru sebaliknya, air mata haru yang menghangatkan persahabatan dan persaudaraan.

Setiap saat, ada banyak pilihan bagi kita, sebagaimana setiap saat tersedia peluang untuk menangkap dan mengikuti inspirasi-inspirasi yang buruk dan menyesatkan atau inspirasi-inspirasi yang baik, benar dan menggerakkan. Fa alhamaha fujuuraha wa taqwaha. Ujung pena kita pun demikian. Terserah, ke arah mana akan kita gerakkan. Kalau kita gerakkan tanpa arah yang pasti, maka ia lebih dekat dengan keburukan daripada kebenaran. Tetapi kalau kita berusaha dengan sungguh-sungguh agar setiap tetes tinta kita menjadi pembuka pintu-pintu hidayah, maka insya Allah betapa pun lemahnya kemampuan kita menulis saat ini, kelak pada waktunya akan ada karya yang benar-benar mampu mengubah dunia melalui kata.

Maka, apalagikah yang lebih berharga daripada hidayah? Berbahagialah orang yang kata-katanya menjadi pembuka hidayah dan ujung penanya mengokohkan jiwa. Dan hari ini, ketika begitu banyak sampah memenihi toko-toko buku, perpustakaan dan otak manusia, kita tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mulai menajamkan pena agar setiap goresan menjadi pembuka kebaikan.

Marilah kita belajar pada sejarah. Buka tebalnya buku yang mengguncangkan jiwa, tetapi susunan yang kuat, keyakinan yang mantap, argumentasi yang matang serta kata-kata yang terpilih di atas paparan yang mudah dicerna, jauh lebih menggerakkan dibanding beribu-ribu halaman pelik dan berpuluh-puluh judul yang hanya menyibukkan pikiran tanpa ada sesuatu yang bisa menggerakkan jiwa untuk bertindak yang benar.

Cukup lama saya menulis buku. Bukan karena futur, tetapi justru karena sangat ingin menajamkan pena. Di waktu-waktu mendatang, insya Allah saya akan menulis buku-buku yang tak begitu tebal. Sebab, akarnya bukan pada tebal tipisnya buku, melainkan pada apa yang menggerakkan diri menggoreskan ujung pena menjadi karya.

Tidak ada banyak waktu untuk bercanda. Sekarang, gerakkanlah penamu dan ubahlah dunia melalui kata. Ingatlah Negara Yahudi Raya yang sangat kejam itu, berdiri hanya karena sebuah buku tipis dan satu novel yang menggugah. Ditulis oleh seorang Benyamin Se’eb alias Theodore Herzl bertajuk Der Judenstaat (The Jewish State) bersama karya fiksinya yang berjudul Altneuland (Old New Land), buku ini menginspirasi jutaan orang Yahudi untuk bergerak mendirikan negara Israel dengan merampas hak-hak orang Palestina. Hari ini, mimpi yang bermula dari buku tipis itu telah terwujud. Lalu apakah yang sudah kita lakukan untuk menggerakkan jiwa manusia kepada sebuah cita-cita besar? Hari ini, hamper seluruh hajat hidup kita dikuasai oleh Yahudi, masihkah engkau sibuk bergenit-genit menulis hanya untuk mendapat tepuk tangan? Sudah saatnya menulis untuk perubahan. Inilah tantangan kita. Ataukah kita menunggu tinta di ujung pena kita mengering sia-sia?


“Setiap tetes tinta seorang penulis adalah darah bagi perubahan peradaban. Karenanya, perhatikanlah bagaimana ujung penamu bergerak”. 
(Mohammad Fauzil Adhim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar