Dalam hadits shahih dari Nabi saw., beliau bersabda,
“Allah swt. Berfirman, ‘Setiap amal bani Adam adalah
untuknya kecuali shaum, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang
membalasnya. ‘Shaum adalah perisai, apabila salah seorang dari kalian shaum
hendaklah jangan berkata keji atau kasar, bila ada yang mencela atau memakinya
hendaknya ia katakana, ‘aku sedang puasa’, demi Zat yang jiwa Muhammad berada
di tangan-Nya, sungguh bau tak sedap dari mulut orang yang berpuasa itu lebih
wangi daripada wangi misik, ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa:
apabila berbuka ia berbahagia dengan berbukanya dan apabila bertemu dengan
Rabb-nya ia berbahagia dengan puasanya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
Wahai orang-orang pilihan, wahai orang-orang yang
baik, pada bulan Ramadhan yang diberkahi ini kita sedang menyambut seruan-Nya,
agar Rabb kita menghapus segala kesalahan yang telah kita lakukan. Sudah berapa
banyak kita berbuat salah, sudah berapa banyak kita berbuat jahat dan sudah
berapa jauh kita berpaling. Pada hari ini, kita datang untuk mengadu kepada
Allah.
Agar tidak dipahami bahwa puasa itu hanya sekedar
lapar dan dahaga semata. Sekali-kali bukan. Sesungguhnya, puasa sebelum menjadi
puasanya perut, ia adalah puasanya mata yang Allah ciptakan untuk Anda supaya
bisa melihat, memandang dan bertadabur. Mata berpuasa sebagaimana puasanya
perut pada bulan ramadhan. Ia berpuasa dari hal haram, berpuasa dari memandang
fitnah dan berpuasa dari memandang maksiat.
Jika Anda tidak menjadikan seluruh anggota badan
berpuasa sebagaimana layaknya perut Anda berpuasa dari makanan dan minuman,
berarti Anda tidak berpuasa secara hakiki.
Adapun puasa bagi lisan adalah menahan lisan dari
ghibah, namimah, bantah-bantah, dan dari melaknat. Shaum juga menuntut Anda
agar menjadikan telinga ikut berpuasa. Puasakanlah telinga Anda dari
mendengarkan perkataan kotor, ghibah, namimah, celaan serta hal-hal keji
lainnya. Kaki Anda juga harus berpuasa dari berjalan menuju perbuatan haram,
tempat-tempat wisata-yang Allah murkai-bersama teman-teman jahat di kafe-kafe,
klub dan tempat-tempat hina yang banyak menyia-nyiakan waktu kita.
Berpuasalah, agar hari-hari, umur, dan malam demi
malam yang kita lewati tidak habis dengan sia-sia. Karena semua waktu itu, demi
Allah, akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah yang memberdirikan kiata,
Dialah Yang Mahahidup dan Berdiri sendiri.
“Dan sungguh kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri,
sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya, dan kamu tinggalkan dibelakangmu
(di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat
besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Allah
diantara Kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) diantara kamu dan telah
lenyap pula dari pada kamu apa yang dahulu kamu anggap sekutu Allah.” (QS.
Al-A’raf: 94).
Kita juga harus menjaga tangan-tangan kita dari
memukul, merusak kehormatan, dan bekhianat dari memakan harta haram, korupsi
dan menyuap. Inilah hakikat puasa menurut Islam.
Semua itu kita lakukan, agar kita bisa kenyang dan
segar karena nantinya kita akan meminum minuman dari sisi Allah swt.
Sesungguhnya, barangsiapa yang tidak sabar berpuasa, pasti, ia tidak sabar pula
menanggung beban-beban ibadah (lainnya).
Adapun substansi-substansi sehubungan dengan puasa
pada bulan yang diberkahi lagi agung ini antara lain:
1.
Berpuasalah untuk mengetahui kejujuran iman Anda.
Syariat puasa (shaum) diturunkan agar kita memahami
bahwa dengan shaum Allah hendak menguji keimanan kita, Allah ingin menguji
apakah kita sudah jujur (shiddiq) kepada-Nya ataukah tidak. Oleh karena itu,
sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Syaikhani dari
Rasulullah saw., beliau bersabda, Allah berfirman,
“Setiap amal bani Adam adalah baginya kecuali puasa,
sesungguhnya ia bagi-Ku, Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Maksudnya, puasa itu adalah rahasia antara Anda dan
Allah, bisa saja Anda makan saat berpuasa dan tidak ada seorangpun yang
mengetahuinya, bisa saja Anda minum pada saat tidak ada seorangpun yang
mengetahuinya.
2.
Awali puasa (shaum) Anda dengan niat yang ikhlas.
Hendaklah kita mengawali shaum dengan niat yang ikhlas
bukan didasari oleh adat istiadat atau terpaksa. Bila waktu berbuka telah tiba,
niatkanlah bahwa Anda telah mempersembahkan 1 hari diantara sekian banyak
hari-hari indah yang dianugrahkan Allah dalam hidup Anda. Niatkan juga bahwa
hidangan berbuka yang Anda santap adalah sebagai sarana untuk memperoleh
kekuatan, agar bisa (tetap) diatas ketaatan kepada Allah. Niatkan juga dalam sahur
sebagai sebuah usaha Anda agar tetap berpuasa pada siang hari; memohon ampunan
kepada Allah pada saat sahur; bahwa Anda akan berpuasa pada hari selanjutnya.
Tak lupa, niatkan pula bahwa shalat tarawih yang Anda dirikan tak lain
dipersembahkan kepada Allah tanpa mengharap pujian dari manusia.
3.
Jangan Anda habiskan hari-hari shaum Anda dengan
tidur.
Manfaatkan waktu-waktu shaum Anda dengan hal-hal yg
bermanfaat. Tidak sepatutnya menjadikan seluruh waktu siang untuk tidur dan
seluruh waktu malam untuk hal-hal sia-sia. Jika waktu Ramadhan dihabiskan untuk
tidur, lalu dimanakah letak nikmaynya puasa serta beratnya lapar dan dahaga?
4.
Banyak membaca Al-Qur’an.
Adapun diantara adab-adab dan sunah-sunah di bulan
Ramadhan adalah banyak membaca Al-Qur’an, karena kalian adalah Ahlul Qur’an.
Jika kita tidak membaca Al-Qur’a, lalu siapa yg akan membacanya?
Ibnu Taimiyah berkata, “Mereka ditimpa musibah
lantaran tidak percaya bahwa hidayah itu ada pan din Islam.”
Akan tetapi diantara kita tidak meyakini dengan
sepenuh hati bahwa hakikat hidayah itu yg sebenarnya ada dalam Al-Qur’an dan
As-Sunnah.
5.
Perbaharui Taubat Kita.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW. bersabda :
“Antara setiap shalat 5 waktu, dari Shalat Jum’at
sampai Jum’at selanjutnya, dari Ramadhan sampai Ramadhan selanjutnya’ adalah
penghapus dosa diantara masing-masingnya, selama tidak melakukan dosa besar.”
Barangsiapa yg melampaui batas dan jauh dari Allah,
hendaklah ia sambut bulan ini, jangan sampai kehilangan kesempatan. Agar Allah
membebaskan kita dari neraka; agar Allah menerima kita dalam golongan orang yg
diterima ibadahnya; dan agar Dia menghapuskan kesalahan-kesalahan kita.
Karena dosa-dosa kemaksiatan akan menghentikan dan
mematikan sumber potensi kita. Ibnu Abbas berkata:
“Kemaksiatan adalah kegelapan didalam hati dan rona
hitam di wajah, kemarahan didalam hati manusia dan kesempitan didalam rezeki.”
Beliau juga berkata, “Ketaatan adalah cahaya di wajah,
putih didalam hati, kecintaan didalam hati manusia dan kelapangan didalam
rezeki, barangsiapa menginginkan kekuatan;kenyamanan hati;kebahagiaan di dunia
dan akhirat;dan kecerdasan, kepahaman serta cahaya, hendaklah ia taat kepada
Allah dan meninggalkan maksiat.”
Sumber :
Buku “Ramadhan Agar Puasa Tak Sekedar Lapar dan Dahaga”. Karya, Dr. A’idh
Al-Qarni, M.A.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar