Kamis, 18 Juli 2013

Agar Tak Sekedar Lapar dan Dahaga



Dalam hadits shahih dari Nabi saw., beliau bersabda,

“Allah swt. Berfirman, ‘Setiap amal bani Adam adalah untuknya kecuali shaum, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya. ‘Shaum adalah perisai, apabila salah seorang dari kalian shaum hendaklah jangan berkata keji atau kasar, bila ada yang mencela atau memakinya hendaknya ia katakana, ‘aku sedang puasa’, demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau tak sedap dari mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi daripada wangi misik, ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: apabila berbuka ia berbahagia dengan berbukanya dan apabila bertemu dengan Rabb-nya ia berbahagia dengan puasanya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Wahai orang-orang pilihan, wahai orang-orang yang baik, pada bulan Ramadhan yang diberkahi ini kita sedang menyambut seruan-Nya, agar Rabb kita menghapus segala kesalahan yang telah kita lakukan. Sudah berapa banyak kita berbuat salah, sudah berapa banyak kita berbuat jahat dan sudah berapa jauh kita berpaling. Pada hari ini, kita datang untuk mengadu kepada Allah.

Agar tidak dipahami bahwa puasa itu hanya sekedar lapar dan dahaga semata. Sekali-kali bukan. Sesungguhnya, puasa sebelum menjadi puasanya perut, ia adalah puasanya mata yang Allah ciptakan untuk Anda supaya bisa melihat, memandang dan bertadabur. Mata berpuasa sebagaimana puasanya perut pada bulan ramadhan. Ia berpuasa dari hal haram, berpuasa dari memandang fitnah dan berpuasa dari memandang maksiat.

Jika Anda tidak menjadikan seluruh anggota badan berpuasa sebagaimana layaknya perut Anda berpuasa dari makanan dan minuman, berarti Anda tidak berpuasa secara hakiki.

Adapun puasa bagi lisan adalah menahan lisan dari ghibah, namimah, bantah-bantah, dan dari melaknat. Shaum juga menuntut Anda agar menjadikan telinga ikut berpuasa. Puasakanlah telinga Anda dari mendengarkan perkataan kotor, ghibah, namimah, celaan serta hal-hal keji lainnya. Kaki Anda juga harus berpuasa dari berjalan menuju perbuatan haram, tempat-tempat wisata-yang Allah murkai-bersama teman-teman jahat di kafe-kafe, klub dan tempat-tempat hina yang banyak menyia-nyiakan waktu kita.

Berpuasalah, agar hari-hari, umur, dan malam demi malam yang kita lewati tidak habis dengan sia-sia. Karena semua waktu itu, demi Allah, akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah yang memberdirikan kiata, Dialah Yang Mahahidup dan Berdiri sendiri.

“Dan sungguh kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri, sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya, dan kamu tinggalkan dibelakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Allah diantara Kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) diantara kamu dan telah lenyap pula dari pada kamu apa yang dahulu kamu anggap sekutu Allah.” (QS. Al-A’raf: 94).
Kita juga harus menjaga tangan-tangan kita dari memukul, merusak kehormatan, dan bekhianat dari memakan harta haram, korupsi dan menyuap. Inilah hakikat puasa menurut Islam.

Semua itu kita lakukan, agar kita bisa kenyang dan segar karena nantinya kita akan meminum minuman dari sisi Allah swt. Sesungguhnya, barangsiapa yang tidak sabar berpuasa, pasti, ia tidak sabar pula menanggung beban-beban ibadah (lainnya).

Adapun substansi-substansi sehubungan dengan puasa pada bulan yang diberkahi lagi agung ini antara lain:

1.       Berpuasalah untuk mengetahui kejujuran iman Anda.


Syariat puasa (shaum) diturunkan agar kita memahami bahwa dengan shaum Allah hendak menguji keimanan kita, Allah ingin menguji apakah kita sudah jujur (shiddiq) kepada-Nya ataukah tidak. Oleh karena itu, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Syaikhani dari Rasulullah saw., beliau bersabda, Allah berfirman,

“Setiap amal bani Adam adalah baginya kecuali puasa, sesungguhnya ia bagi-Ku, Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Maksudnya, puasa itu adalah rahasia antara Anda dan Allah, bisa saja Anda makan saat berpuasa dan tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, bisa saja Anda minum pada saat tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.

2.       Awali puasa (shaum) Anda dengan niat yang ikhlas.

Hendaklah kita mengawali shaum dengan niat yang ikhlas bukan didasari oleh adat istiadat atau terpaksa. Bila waktu berbuka telah tiba, niatkanlah bahwa Anda telah mempersembahkan 1 hari diantara sekian banyak hari-hari indah yang dianugrahkan Allah dalam hidup Anda. Niatkan juga bahwa hidangan berbuka yang Anda santap adalah sebagai sarana untuk memperoleh kekuatan, agar bisa (tetap) diatas ketaatan kepada Allah. Niatkan juga dalam sahur sebagai sebuah usaha Anda agar tetap berpuasa pada siang hari; memohon ampunan kepada Allah pada saat sahur; bahwa Anda akan berpuasa pada hari selanjutnya. Tak lupa, niatkan pula bahwa shalat tarawih yang Anda dirikan tak lain dipersembahkan kepada Allah tanpa mengharap pujian dari manusia.

3.       Jangan Anda habiskan hari-hari shaum Anda dengan tidur.


Manfaatkan waktu-waktu shaum Anda dengan hal-hal yg bermanfaat. Tidak sepatutnya menjadikan seluruh waktu siang untuk tidur dan seluruh waktu malam untuk hal-hal sia-sia. Jika waktu Ramadhan dihabiskan untuk tidur, lalu dimanakah letak nikmaynya puasa serta beratnya lapar dan dahaga?

4.       Banyak membaca Al-Qur’an.


Adapun diantara adab-adab dan sunah-sunah di bulan Ramadhan adalah banyak membaca Al-Qur’an, karena kalian adalah Ahlul Qur’an. Jika kita tidak membaca Al-Qur’a, lalu siapa yg akan membacanya?

Ibnu Taimiyah berkata, “Mereka ditimpa musibah lantaran tidak percaya bahwa hidayah itu ada pan din Islam.”
Akan tetapi diantara kita tidak meyakini dengan sepenuh hati bahwa hakikat hidayah itu yg sebenarnya ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

5.       Perbaharui Taubat Kita.


Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW. bersabda :

“Antara setiap shalat 5 waktu, dari Shalat Jum’at sampai Jum’at selanjutnya, dari Ramadhan sampai Ramadhan selanjutnya’ adalah penghapus dosa diantara masing-masingnya, selama tidak melakukan dosa besar.”
Barangsiapa yg melampaui batas dan jauh dari Allah, hendaklah ia sambut bulan ini, jangan sampai kehilangan kesempatan. Agar Allah membebaskan kita dari neraka; agar Allah menerima kita dalam golongan orang yg diterima ibadahnya; dan agar Dia menghapuskan kesalahan-kesalahan kita.

Karena dosa-dosa kemaksiatan akan menghentikan dan mematikan sumber potensi kita. Ibnu Abbas berkata:
“Kemaksiatan adalah kegelapan didalam hati dan rona hitam di wajah, kemarahan didalam hati manusia dan kesempitan didalam rezeki.”

Beliau juga berkata, “Ketaatan adalah cahaya di wajah, putih didalam hati, kecintaan didalam hati manusia dan kelapangan didalam rezeki, barangsiapa menginginkan kekuatan;kenyamanan hati;kebahagiaan di dunia dan akhirat;dan kecerdasan, kepahaman serta cahaya, hendaklah ia taat kepada Allah dan meninggalkan maksiat.”

Sumber : Buku “Ramadhan Agar Puasa Tak Sekedar Lapar dan Dahaga”. Karya, Dr. A’idh Al-Qarni, M.A.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar