Kamis, 18 Juli 2013

Mengapa Dia Pipenjara?



Ada sebuah kisah menarik yang pernah terjadi di suatu negeri pada tahun 1965. Peristiwa ini, patut kaum muslimat renungkan. Kala itu, hiduplah seorang aktivis muslimah yang menyeru manusia kepada Allah swt. Namanya Zainab Al-Ghazali. Dia adalah seorang da’I wanita yang cukup gigih dalam berdakwah. Dalam hidup kesehariannya, yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana menyebarkan kebajikan dan membimbing manusia ke jalan yang benar.

Dia memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam. Ketajaman kata-katanya dalam berdakwah membuat ia harus berhadapan dengan pemimpin negeri yang zalim saat itu. Zainab Al-Ghazali pun telah menjalani fase-fase penyiksaan. Bulu kuduk kita serasa berdiri saat mendengar kisahnya. Meski demikian, keyakinannya akan pertolongan Allah swt., kelezatan iman yang dirasakannya, serta tekadnya yang membaja membuat ia terus bersabar.

Pada Agustus 1965, rumah Zainab Al-Ghazali digeledah oleh beberapa tentara, tanpa izin terlebih dahulu. Tatkala ia meminta diperlihatkan surat tugas penggeledahan, mereka menjawab, “Surat tugas yang mana, hai orang-orang gila! Kami sekarang dalam masa, dimana kami bebas melakukan apa yang kami kehendaki terhadap kalian.”

Tanpa penjelasan lain yang menjadi bukti, mereka langsung menyeret Zainab Al-Ghazali keluar rumah dan dibawa dengan mobil aparat layaknya seorang gembong penjahat. Taka da persidangan dan tanpa pembelaan, muslimah yang tekun beribadah ini langsung dijebloskan ke penjara. Namun, ia tetap sabar dan mengharapkan pahala dari Allah swt. Atas ujian yang diterimanya itu.
Ia dimasukkan ke dalam ruangan penjara nomor 24.

Sekarang, dengarlah apa yang dia ceritakan.

“Sebuah pintu ruangan yang sangat gelap dibuka , lalu aku dimasukkan ke dalamnya. Dan ketika ruangan itu telah menelan diriku, aku mengucapkan, “Bismillahi As-salamu’alaikum.” Kemudian, pintu itu ditutup kembali. Setelah itu lampu listrik yang sangat terang dinyalakan dengan tiba-tiba. Ini dimaksudkan untuk menyiksa diriku. Ruangan itu dipenuhi oleh beberapa anjing. Aku tidak mengetahui persis berapa jumlahnya.

Aku pejamkan kedua mataku dan kuletakkan kedua tanganku di dadaku, karena ketakutan yang mencekam. Lalu aku mendengar suara pintu dikunci dengan rantai dan gembok besar. Anjing-anjing itu langsung menyerangku dan menggigit sekujur tubuhku, kepalaku, kedua tanganku, dadaku, punggungku, dan diseluruh bagian dari tubuhku kurasakan tusukan taring-taring anjing. Sakit sekali.

Tatkala aku mencoba membuka mata untuk melihat, maka dengan segera kupejamkan kembali karena ketakutan yang sangat mencengkam. Lalu kuletakkan kedua tanganku di bawah kedua ketiakku, sambil menyebut asma-asma Allah swt. (Asmaul Husna), mulai dari kata, “Ya Allah, ya Allah..”

Satu per satu nama agung Allah kubaca. Sementara anjing-anjing tiada berhenti menggigit tubuhku. Tusukan taringnya kurasakan di kepalaku, pundakku, punggungku, dadaku, dan sekujur tubuhku. Saat itu saya berdoa kepada Allah swt. Dengan mengatakan, “ Ya Allah, sibukkanlah aku dengan (mengingat)-Mu, hingga melupakan selain-Mu. Sibukkanlah aku dengan (mengingat)-Mu, wahai Tuhan-Ku. Wahai Dzat Yang Maha Esa, wahai Dzat Yang menjadi tempat bergantung. Bawalah aku dalam dari alam kasar (dunia) ini. Sibukkanlah aku agar tidak mengingat seluruh hal selain-Mu. Sibukkanlah aku dengan (mengingat)-Mu, bawalah aku di hadirat-Mu. Berilah aku ketenangan yang sempurna dari-Mu. Liputilah aku dengan pakaian kecintaan-Mu. Berilah kepadaku rezeki mati syahid di jalan-Mu. Karuniakanlah kepadaku kecintaan yang tulus kepada-Mu, keridhaan pada (ketentuan)-Mu dan Ya Allah, teguhkanlah diriku, sebagaimana keteguhan yang dimiliki oleh para ahli tauhid ya Allah!”

Doa tersebut kuucapkan dengan lirih, sementara binatang-binatang buas itu tiada henti menusukkan taringnya di sekujur tubuhku.

Detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam pun berlalu. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, lalu aku dikeluarkan dari kamar yang sangat pengap dan mencekam tersebut.

Aku membayangkan, bahwa pakaian putih yang kukenakan telah berlumuran darah. Itulah yang saya rasakan dan bayangkan bahwa anjing-anjing itu benar-benar telah menggigitku. Akan tetapi, betapa kagetnya aku. Seolah-olah pakaianku tiada terkena sesuatu apapun, dan seolah-oleh tiada satu pun taring yang menembus tubuhku. Mahasuci Engkau ya, Allah….

Sesungguhnya Dia selalu bersamaku dan selalu megawasiku. Ya Allah, apakah aku ini layak mendapatkan karunia dan kemuliaan dari-Mu. Ya, Tuhanku bagimu segala puji. Semua itu kuucapkan dalam hati.

Para sipir (penjaga penjara) terperangah dan terheran-heran ketika mengetahui bahwa anjing-anjing tidak merobek tubuhku. Saya tidak mengetahui mengapa mereka amat terheran menyaksikan hal seperti itu. Bukankah Allah swt. Telah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)


Ini adalah peristiwa nyata yang terjadi di masa kejamnya pemerintahan kita. Peristiwa itu merupakan pertolongan yang diberikan Allah kepada Zainab Al-Ghazali, wanita muslimah tersebut. Ia selalu tegar karena sangat yakin bahwa pertolongan Allah swt. Pasti datang.   

Sumber : Buku "Membentuk Muslimah Militan", karya Najib Khalid 'Al-Amir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar