Menjadi
pembahasan yang menarik jika kita tengok sejenak sejarah pemuda Indonesia yang
gelora semangatnya begitu membara. KAMMI yang mendeklarasikan dirinya sebagai
gerakan islam yang menjawab dinamika perpolitikan di era orde baru yang kelam
masa itu. KAMMI sebagai entitas politik Islamis lahir di titik krisis Rezim
Orde Baru. KAMMI merupakan kekuatan alternatif pergerakan mahasiswa muslim yang
tergabung dalam jaringan FSLDK (Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus) dari
63 Perguruan Tinggi Negri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Indonesia.
FSLDK adalah unit kegiatan kemahasiswaan muslim yang fokus pada pembinaan dan
kesholehan kader. Unit kegiatan ini berada dalam internal kampus. Para aktivis
tadi menentang Rezim Orde Baru tang represif dalam doktrin pembinaan mereka.
Namun demikian mereka belum mempunyai daya dobrak untuk meruntuhkan
pemerintahan dictator yang telah berkuasa lebih dari tiga dasawarsa.
Kongres
kesepuluh di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada tanggal 29 April 1998
menjadi saksi deklarasi lahirnya elemen aksi mahasiswa muslim yang beri nama
KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Elemen ini merupakan
kendaraan politik yang ditunggangi langsung oleh para mahasiswa muslim yang
tergabung dalam FSLDK. Pasca deklarasi, KAMMI langsung memobilisasi masa di
seluruh Indonesia untuk siaga mengadakan unjuk rasa kepada Rezim Orde Baru yang
sudah tak layak lagi dipertahankan. Fahri Hamzah, yang kala itu diamanahkan
menjadi ketua umu segera melakukan road show politik bersama lokomotif
ferormasi, Amien Rais ke pelbagai daerah turut serta mengerahkan masa yang
beri’tikad untuk mengadakan reformasi. Sebagai sebuah maneuver, langkah awal
KAMMI ini telah berhasil membuat aparat keamanan jadi kewalahan.
Tak
berselang lama, aksi proter massif KAMMI tidak pelak mampu menggerakkan gerbong
perlawanan yang selamai ini hanya menjadi aksi eksklusif dari sayap kiri dan
sosialis. Momentum ini pun dimanfaatkan oleh Amien Rais untuk mengecam Rezim
Orde Baru itu untuk melengserkan jabatannya dengan mengerahkan aksi sejuta masa
di Monas menjelang 29 Mei 1998. Aksi ini sengaja dilakukan sebagai bentuk
puncak perlawanan rakyat yang telah lama ditindas oleh pemimpinnya. Para
aktivis Islam yang kala itu menjadi basis masa perlawanan akbar ini telah
mantap menyatakan kesiapan dan kesediannya. Pemerintah dan seluruh jajarannya
dibuat kebakaran jenggot. Seluruh aparat keamanan dikerahkan untuk menjaga
tempat dilaksanakannya aksi masif itu. Karena alasan kemanan yang tidak
memungkinkan, oleh Amien Rais aksi tersebut terpaksa dibatalkan. Meski demikian
KAMMI tetap memboyong massanya untuk mengepung senayan. Para pengamat menilai,
jika aksi itu tetap digelar maka ini merupakan aksi berdarah pasca
pemberontakan komunis 1965. Namun, pemerintah nampaknya telah kehilangan
kharisma politik. Hal ini dibuktikan dengan pembelotan yang dilakukan oleh kubu
Wiranto dan Prabowo. Mereka yang selama ini loyal terhadap pemerintah
menyatakan diri untuk tidak berkoalisi, sementara Golkar berbalik arah mentut
Soeharto meletakkan jabatannya. Tepat 29 Mei 1998 jam 09.00 WIB, Soeharto
secara resmi menyatakan untuk mundur dari jabatannya. Dengan demikian
berakhirlah Rezim Orde Baru yang telah berkuasa selam 32 tahun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar