“Buku adalah sesuatu
yang jika Anda pandang maka akan memberikan kenikmatan yang panjang. Dia
menajamkan kemampuan intelektual, membuat lidah tidak keluh, dan membuat ujung
jemari semakin indah”
(Petikan buku La
Tahzan karya Dr. ‘Aidh al-Qarni)
Sengaja diawal tulisan ini
disuguhkan dengan petikan nasihat penggugah. Agar tak pernah lupa bahwa
selayaknya siapapun kita, senantiasa rutin dengan aktivitas membaca, menulis,
dan berdiskusi. Terlebih lagi mereka yang menyandang gelar “mahasiswa”. Catatan
ini khusus dibuat untuk seluruh kader KAMMI Komisariat STT Tekstil. Sebagai
pengingat kita yang mungkin sering lupa. Nasihat ini sengaja mengutip inspirasi
penutup dari buku “Inspiring Words for Writers” karya Mohammad Fauzil Adhim.
Semoga catatn ini bisa membakar semangat kita untuk memulai budaya membaca,
menulis, dan berdiskusi. Silahkah disimak………
Kata-kata yang tersusun rapi,
dapat menyihir manusia. Ia menggerakkan yang diam, dan meredakan yang
bergejolak. Karena kata-kata, sebuah bangsa dapat bertikai dengan bangsa-bangsa
lain. Dan karena kata-kata pula, pedang yang terhunus bisa masuk kembali ke
sarungnya tanpa ada sedikit pun darah yang menetes. Justru sebaliknya, air mata
haru yang menghangatkan persahabatan dan persaudaraan.
Setiap saat, ada banyak pilihan
bagi kita, sebagaimana setiap saat tersedia peluang untuk menangkap dan
mengikuti inspirasi-inspirasi yang buruk dan menyesatkan atau
inspirasi-inspirasi yang baik, benar dan menggerakkan. Fa alhamaha fujuuraha wa taqwaha. Ujung pena kita pun demikian.
Terserah, ke arah mana akan kita gerakkan. Kalau kita gerakkan tanpa arah yang
pasti, maka ia lebih dekat dengan keburukan daripada kebenaran. Tetapi kalau
kita berusaha dengan sungguh-sungguh agar setiap tetes tinta kita menjadi
pembuka pintu-pintu hidayah, maka insya Allah betapa pun lemahnya kemampuan
kita menulis saat ini, kelak pada waktunya akan ada karya yang benar-benar
mampu mengubah dunia melalui kata.
Maka, apalagikah yang lebih
berharga daripada hidayah? Berbahagialah orang yang kata-katanya menjadi
pembuka hidayah dan ujung penanya mengokohkan jiwa. Dan hari ini, ketika begitu
banyak sampah memenihi toko-toko buku, perpustakaan dan otak manusia, kita tak
bisa menunggu lebih lama lagi untuk mulai menajamkan pena agar setiap goresan
menjadi pembuka kebaikan.
Marilah kita belajar pada
sejarah. Buka tebalnya buku yang mengguncangkan jiwa, tetapi susunan yang kuat,
keyakinan yang mantap, argumentasi yang matang serta kata-kata yang terpilih di
atas paparan yang mudah dicerna, jauh lebih menggerakkan dibanding beribu-ribu
halaman pelik dan berpuluh-puluh judul yang hanya menyibukkan pikiran tanpa ada
sesuatu yang bisa menggerakkan jiwa untuk bertindak yang benar.
Cukup lama saya menulis buku.
Bukan karena futur, tetapi justru karena sangat ingin menajamkan pena. Di waktu-waktu
mendatang, insya Allah saya akan menulis buku-buku yang tak begitu tebal.
Sebab, akarnya bukan pada tebal tipisnya buku, melainkan pada apa yang
menggerakkan diri menggoreskan ujung pena menjadi karya.
Tidak ada banyak waktu untuk
bercanda. Sekarang, gerakkanlah penamu dan ubahlah dunia melalui kata. Ingatlah
Negara Yahudi Raya yang sangat kejam itu, berdiri hanya karena sebuah buku
tipis dan satu novel yang menggugah. Ditulis oleh seorang Benyamin Se’eb alias
Theodore Herzl bertajuk Der Judenstaat (The Jewish State) bersama karya
fiksinya yang berjudul Altneuland (Old New Land), buku ini menginspirasi jutaan
orang Yahudi untuk bergerak mendirikan negara Israel dengan merampas hak-hak
orang Palestina. Hari ini, mimpi yang bermula dari buku tipis itu telah
terwujud. Lalu apakah yang sudah kita lakukan untuk menggerakkan jiwa manusia
kepada sebuah cita-cita besar? Hari ini, hamper seluruh hajat hidup kita
dikuasai oleh Yahudi, masihkah engkau sibuk bergenit-genit menulis hanya untuk
mendapat tepuk tangan? Sudah saatnya menulis untuk perubahan. Inilah tantangan
kita. Ataukah kita menunggu tinta di ujung pena kita mengering sia-sia?
“Setiap tetes tinta seorang penulis adalah darah bagi perubahan
peradaban. Karenanya, perhatikanlah bagaimana ujung penamu bergerak”.
(Mohammad
Fauzil Adhim)

















