Kewajiban Kita Terhadap Al-Qur’an
Pertama,
meyakini
dengan sungguh-sungguh bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali
kecuali petunjuk Al-Qur’an. Kita harus menjadikannya sumber hukum agama yang
senantiasa dikaji dan digali serta dijadikan rujukan. Kita telah mengetahui
Rasulullah saw. tatkala membenarkan Muadz bin Jabal saatbertanya kepadanya, “Dengan apa Anda menghukum?” Ia
menjawab, “Dengan Kitabullah”.
Kedua, menjadikan Al-Qur’an sebagai
sahabat karib, kawan bicara dan guru. Para salafus shalih pun demikian. Mereka
mencurahkan seluruh waktunya untuk Al-Qur’an. Hingga Rasulullah melarang mereka
dalam berlebihan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Seperti termuat di dalam
hadits, Nabi saw. menyuruh Abdullah bin Amru bin ‘Ash untuk engkhatamkan Al-Qur’an
cukup sekali dalam sebulan, sekali dalam 20 hari atau sekali dalam seminggu, “Karena sesungguhnya istrimu mempunyai hak
yang harus kau tunaikan, tamumu mempunyai hak yang harus kau tunaikan, dan
jasadmu mempunyai hak yang harus kau tunaikan..” (HR. Bukhari Muslim). Rasulullah
saw. bersabda tentang orang yang gemar membaca Al-Qur’an secara rutin, “Diantara hamba-hamba Allah yang paling
dicintai oleh Allah adalah Al-Hallul Murtahil (orang yang singgah dan pergi).” Para
sahabat bertanya, “Siapakan Al-Hallul
Murtahil itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang mengkhatamkan Al-Qur’an lalu memulainya lagi dan orang yang
memulai membaca Al-Qur’an kemudian mengkhatamkannya. Demikianlah, ia terus
berada dalam keadaan singgah dan pergi bersama kitab Allah tabaroka wa ta’ala”.
Ketiga,
memperhatikan
adab-adab terhadap Al-Qur’an, baik dalam membaca maupun mendengarnya.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya
Al-Qur’an ini turun dengan kesedihan, maka jika kamu membacanya, hendaklah kamu
menangis. Jika kamu tidak menangis, maka buatlah seolah-oleh dirimu menangis.” Umar
bin Khattab pernah tersungkur pingsan mendengar bacaan surat Ath-Thur, sampai beliau harus digendong
oleh seorang sahabat yang bernama Aslam dan dibawa ke rumahnya. Beliau sakit selama
30 hari.
Dalam Al-Qur’an, Allah swt. befirman, “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik ( yaitu) Al-Qur’an
yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit
orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati
mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia
menunjuki sipapa yg dikendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah,
niscaya taka ada baginya seorang pemimpin pun.” (QS. Az-Zumar: 23)
Keempat,
mengamalkan
hukum-hukum dalam Al-Qur’an. Hukum itu meliputi hukum individu dan
kemasyarakatan. Hukum individu diantaranya; shalat, zakat, puasa, haji, taubat,
serta akhlak). Sedangkan hukum kemasyarakatan, yaitu menegakkan hudud, jihad
dan masalah-masalah yang merupakan tugas negara dalam Islam. Jika negara tidak
melaksanakannya, ia bertanggung jawab dihadapan Allah swt.
Al-Qur’an
dan Rasulullah saw
Al-Qur’an telah berhasil mengisi sebagian besar
kehidupan beliau. Menyita detik demi detik yang begitu berharga dari kehidupan
beliau.Rasulullah saw. meggunakan sebagian besar waktunya untuk (membaca)
Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Oleh karena itu, ketika Aisyah ra. ditanya−sebagaimana
tercantum dalam Shahih Muslim, “Bagaimana
akhlak beliau? Ia menjawab, ‘Akhlak beliau adalah Al-Qur’an’”. Apabila beliau
memiliki waktu senggang, merasakan hati yang nyaman dan jiwa yang siap menuju
Allah maka beliau sibukkan waktu itu untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Dalam Shahihain
disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud ra. berkata, “Rasulullah saw bersabda kepadaku, ‘Bacalah Al-Qur’an untukku!’, Lalu
aku menjawab ‘Wahai Rasulullah, bagaimana aku membaca Al-Qur’an untukmu padahal
kepadamulah ia diturunkan?”
Maknanya, bahwa Ibnu Mas’ud ra. merasa malu bahwa ia
harus membacakan Al-Qur’an, sementara ia belajar Al-Qur’an dari Rasulullah saw.
Lalu beliau bersabda “Bacakanlah
Al-Qur’an untukku, karena aku ingin mendengar dari orang lain, aku ingin
merasakan kesegaran baru dari orang lain jika dibacakan kepadaku.”
Mulailah Ibnu Mas’ud ra. membaca, sementara Rasulullah
diam mendengarkan, tatkala sampai pada firman Allah dalan surat An-Nisa ayat
ke-41: “Maka bagaimanakah kiranya jika
Kami datangkan dari tiap-tiap umat itu seorang saksi (Rasul), dan Kami
datangkan Kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.” Beliau bersabda, “Cukup!” Ibnu Mas’ud pun mengatakan
bahwa ia melihat kedua mata Rasulullah telah bercucuran air mata.
Kehidupan beliau beliau bersama Al-Qur’an adalah
kehidupan dalam zikir dan tadabur. Mutharrif bin Abdullah dari ayahnya
berkata−sebagaimana tersebut dalam Sunah An-Nasa’i dan Ahmad, “Saya menemui
Rasulullah dan beliau sedang shalat, dari dadanya terdengar suara gemuruh
seperti suara air mendidih dalam marjal(pembuka
periuk) karena menangis.”
Dalam hadits Abu Dzar, “Sesungguhnya, beliau bangun
malam untuk shalat. Ketika beliau mulai membaca firman Allah,
“Bismillahirrahmanirrahim,” mendadak beliau menangis. Beliau kemudian
mengulangi, “Bismillahirrahmanirrahim.” Beliau pun kembali menangis, kemudian
tersedu-sedu dalam shalat sunnahnya. Beliau bersabda, “Sia-sialah orang yang
tidak mendapat rahmat Allah, gagallah orang yang tidak mendapat rahmat Allah.” Inilah
kehidupan beliau bersama Al-Qur’an. Karena itulah Al-Qur’an adalah prioritas
utamanya dalam bulan ramadhan. Oleh karena itu,sebagian para salaus shalih
berpendapat bahwa bulan Ramadhan hanya dikhususkan untuk tadabur Al-Qur’an dan
tidak untuk yang lainnya. Meskipun sebagian yang lain memandang bahwa ilmu
lebih utama.
Diriwayatkan dari Imam Malik, Sang Imam
Darul-Hijrah, apabila bulan Ramadhan tiba, beliau tinggalkan aktivitas
berfatwa, mengajar dan membacakan hadits. Beliau pun mulai membaca Kitabullah
seraya berkata, “Ini bulan Al-Qur’an, ini bulan Al-Qur’an!”
Ibnu Hajar menyebutkan dalam biografi Imam
Al-Bukhaari bahwa Imam Bukhari mengkhatamkan Al-Qur’an selama bulan ramadhan
sebanyak 60x. Sekali pada siang hari dan sekali pada bulan ramadhan.
Jika bulan ramadhan tidak Anda jadikan sebagai bulan
untuk untuk mengkhatamkan Al-Qur’an, untuk tadabbur, memberi petunjuk, dan
untuk mengambil manfaat, kapan lagi Anda akan mengkhatamkannya? Padahal, Allah
swt. telah menjadikan bumi ini sebagai bulan ibadah, bulan pemerimaan amal, dan
bulan taubat.






insyaallah yuk! lebih gencar lagi di waktu akhir bulan ramadhan.
BalasHapusizin copas akh ...
BalasHapushttp://www.kammialfath.org/